Rabu, 26 Mei 2010

Bab 5 Ikhlas - Hadits-hadits Nabi SAW Tentang Iman dan Ihtisab


YAKNI BERAMAL DENGAN YAKIN terhadap apa yang telah dijanjikan Allah ‘azza wa jalla disertai rasa rindu dan penuh harap akan pahala dan balasan dari sisi Allah.

1228. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.huma., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Ada empat puluh perkara yang baik —yang tertinggi adalah manihatul-‘anzi—, jika seseorang mengerjakan salah satu di antaranya dengan mengharap pahalanya dan membenarkan janji mengenainya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga.” (H.r. Bukhari).
Keterangan
Ada empat puluh perkara yang baik: Rasulullah saw. telah menganjurkan pintu-pintu kebaikan yang tidak terhitung banyaknya, dan jelas bahwa beliau mengetahui keempat puluh perkara tersebut. Beliau tidak menyebutkannya hanyalah karena suatu maksud yang justru lebih baik bagi kita daripada jika beliau menyebutkannya. Karena kalau disebutkan, dikhawatirkan kita akan merasa cukup dengan empat puluh macam tersebut dan merasa tidak membutuhkan kebaikan yang lain. (Fathul-Bari).
Manihatul-‘anzi, yaitu: Memberikan seekor kambing kepada seseorang untuk diambil susunya, lalu kambing itu dikembalikan lagi. (An-Nihayah).

1229. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengiringi jenazah seorang muslim karena iman dan ihtisab, dan menyertai jenazah itu sampai dishalatkan dan selesai penguburannya, maka ia kembali dengan membawa pahala dua qirath, tiap qirath semisal gunung Uhud. Barangsiapa menshalatkannya kemudian kembali sebelum dikubur, maka ia kembali dengan membawa satu qirath.” (H.r. Bukhari).
Keterangan
Karena ihtisab: yakni karena mencari keridhaan dan pahala dari Allah. Ihtisab dalam mengerjakan amal-amal shalih dan menghadapi kesusahan merupakan sikap bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah diri dan sabar. (An-Nihayah).

1230. Dari Abu Darda’ r.a., ia berkata, “Saya telah mendengar Abul-Qasim saw. bersabda, ‘Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan membangkitkan satu umat sesudahmu. Jika mereka mendapatkan apa yang mereka sukai, mereka memuji Allah. Dan jika ditimpa hal-hal yang tidak mereka inginkan, mereka mengharapkan pahala dan bersabar, padahal mereka bukan penyantun dan tidak mempunyai ilmu tentang urusan itu. Maka ‘Isa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, lalu bagaimana bisa mereka bersikap demikian, padahal tidak mempunyai sifat penyantun dan ilmu?’ Allah swt. berfirman, Aku berikan mereka sifat santun-Ku dan ilmu-Ku.” (H.r. Hakim).





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Blog ini memberikan informasi mengenai dalil-dalil shahih tentang enam sifat para shahabat Nabi. Bagi sebagian kaum muslimin yang mengingkari atau masih meragukan akan perkara enam sifat, sangat dianjurkan untuk membuka halaman blog ini dan bila masih kurang yakin, silahkan membaca langsung ke Kitab aslinya berjudul MUNTAHAB A HADITS karya Al hafizh Syeikh Maulana Zakariyya Al Kandahlawi rah. Semoga bermanfaat.

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP